Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 April 2015

Cerita Mpu Gandring, Keris yang digunakan Ken Arok

Keris Mpu Gandring sangat terkenal dan melegenda karena kehebatannya, yang mana keris yang digunakan ken arok tersebut adalah salah satu benda pusaka yang menjadi warisan Indonesia dari segi sejarah dan cerita yang melekat pada nama keris tersebut. Keris Mpu Gandring adalah benda pusaka sakti yang dibuat oleh seorang pandai besi yaitu Mpu Gandring, yang mana keris ini sangat populer dalam sejarah kerajaan Singasari.

Ken Arok memesan kepada Mpu Gandring untuk dibuatkan keris sakti, namun belum sempat empu tersebut menyelesaikan karyanya, ken arok sudah memaksanya untuk memakai keris tersebut. Untuk menguji kehebatan keris tersbut ken arok menusu'kkannya pada tubuh mpu gandring. Karena sebagian kesaktian mpu tersebut sudah ditransfer kedalam keris buatannya, maka dia meninggal oleh keris buatannya sendiri.

Pada detik-detik kematiannya, mpu gandring mengucapkan kutukan bahwa keris tersebut akan memakan kor'ban yaitu keturunan ken arok sampai 7 turunan. Dan ternyata memang berturut-turut keturunan raja Singhasari tersebut t3was oleh keris mpu gandring.

Demikianlah cerita singkat mengenai keris sakti dan fenomenal yaitu keris mpu gandring yang tidak memiliki sarung, karena sarungnya adalah badan si pemilik keris tersebut.

Sampai sekarang sejarah dari cerita keris tersebut masih sangat dikenal oleh masyarakat, dan tidak ada yang tahu kemana kini keris sakti warisan leluhur tersebut menghilang. Tak seperti keris semar mesem yang banyak digunakan oleh orang untuk benda pusaka atau jimat. (http://tersakti.blogspot.com)

Cerita Manusia Harimau Adalah Kisah Nyata!

Ingin membaca cerita manusia harimau yang dapat membuat bulu kuduk berdiri? Berikut ini salah satu kisah seram manusia harimau jadi-jadian yang berakhir tragis, meskipun awalnya penampakan manusia misteri tersebut membuat orang takut, namun ada saja hal yang lebih hebat dari apa yang dirasa sebagai ilmu kesaktian.

Cerita tentang manusia berwujud harimau, kadang berubah jadi anjing tersebut memang kisah sebenar yang terjadi di daerah asal penulis. Sekitar 3 bulan lebih kisah tersebut membuat orang enggan untuk keluar rumah karena takut akan wujud manusia aneh yang nampak di malam hari tersebut.

Dikisahkan, manusia tersebut merupakan orang yang sedang menguji kesaktian karena belajar ilmu ghaib, namun tak sedikit rumor yang mengatakan kalau ianya adalah orang yang hendak mencuri, dengan cara menakuti warga untuk mengalihkan perhatian.

Perwujudan manusia tersebut lebih sering berubah menjadi anjing besar, namun ketika tak ada pilihan lain maka ia akan berubah jadi harimau yang dapat meluk4i orang disekitarnya. Ketika hendak ditangkap, manusia ganjil tersebut selalu menghilang tanpa bekas.

Seperti apa kisah lengkap tentang manusia harimau yang sering nampak di malam hari tersebut? Silakan baca kisah sebenarnya disini: http://blogtersakti.blogspot.com/

Dalam link yang telah admin tersakti berikan diatas nampak bahwa adanya upaya untuk mempelajari ilmu ghaib yang dapat merubah wujud orang normal menjadi manusia setengah harimau sehingga pada waktu-waktu tertentu dia akan berubah menjadi harimau jadi-jadian yang dapat meresahkan warga masyarakat.

Kenapa demikian? Karena kehadiran manusia harimau ini sangat mudah diketahui apabila dia keluar di malam hari maka semua hewan yang dia lewati akan takut, misalnya banyak anjing melolong tak menentu, itu menandakan kehadiran makhluk setengah macan ini. Sehingga tidak ada yang berani untuk keluar menjenguk asal suara tersebut karena dapat terluka oleh manusia yang sudah mengamalkan ilmu gaib tersebut.

Alasan Mengapa Pohon Beringin Angker

Kebanyakan masyarakat menganggap pohon beringin sebagai pohon yang memiliki penunggu berupa makhluk halus, dan anggapan bahwa pohon beringin adalah jenis pohon angker adalah sangat umum. Kalau kita cermati sebenarnya bukan hanya pohon beringin yang dianggap angker, ada beberapa jenis tumbuhan juga dipercaya menjadi 'rumah' bagi sebangsa jin dan makhluk ghaib lainnya, sebut saja pohon asem.

Kesan mistik dan seram yang melekat pada pohon beringin memang cukup kuat, hal ini dapat kita lihat dari akar-akar yang menggantung dengan bentuk pohon yang besar sehingga terkesan wingit bahkan menimbulkan kesan menakutkan bagi orang yang berada didekatnya.


pohon beringin angker

Menurut cerita orang tua-tua, kalau suatu pohon beringin dari kecil sudah dianggap memiliki penunggu dan diberikan sesaji, dibalut kain putih, atau diberi 'panjang ilang' maka lama-kelamaan pohon tersebut akan dihuni makhluk halus dan menjadi angker.

Pohon beringin dapat menjadi media atau rumah tempat tinggal bagi makhluk halus karena area dimana pohon tersebut tumbuh dapat menciptakan ruang tersendiri dalam sisi dunia yang berbeda, yaitu alam ghaib. Maka tak heran kalau kita sering mendengar cerita seram istana jin atau tempat tinggal jin yang kalau kita lihat di alam nyata berupa pepohonan atau batu besar yang umurnya ratusan tahun.

Beberapa benda seperti pohon atau batu yang umurnya cukup tua memang dapat ditinggali oleh makhluk yang tak dapat kita lihat dengan mata biasa, dan tempat tinggal yang dimaksud disini bukan benar-benar tinggal didalam pohon tersebut namun tentunya di alam yang berbeda.

Arti Mitos dan Pantangan Orang Jawa

Orang-orang tua jaman dahulu sangat percaya dengan adanya pantangan yang terkait dengan hari sial dan hal tidak baik yang akan berlaku apabila kita melanggar pantangan tersebut. Berikut ini beberapa arti mitos orang Jawa beserta pantangan yang seringkali dilarang untuk tidak dilakukan karena akan mendatangkan mara bahaya bagi yang melanggarnya.

Berbagai pantangan dibawah ini masih ada kaitannya dengan hitungan hari terutama bagi masyarakat Jawa yang sangat percaya dengan adanya hal-hal ghaib dan hari tidak baik untuk melakukan sesuatu. Dengan mengetahui berbagai mitos tersebut sebenarnya ada baiknya juga untuk kita terhindar dari hal buruk yang secara tidak langsung akan terjadi apabila kita melakukan sesuatu yang tidak baik tersebut.

Beberapa pantangan atau 'sirikan' yang tidak dilakukan oleh orang Jawa:


  1. Duduk ditengah pintu, tidak boleh duduk ditengah pintu karena akan ada makhluk halus yang mengganggu kita
  2. Makan sambil duduk di tengah pintu, ini juga tidak boleh karena akan diganggu oleh jin
  3. Menyapu diwaktu malam hari, tidak boleh menyapu waktu malam hari karena akan seret rezeki atau susah dalam hidup
  4. Mencari hari baik ketika akan tinggal dirumah baru, disarankan untuk mencari hari yang baik menurut hitungan jawa sebelum menempati bangunan atau rumah kontrakan yang baru
  5. Mengadakan tumpengan waktu beli motor atau mobil, ketika baru membeli kendaraan bermotor maka harus mengadakan tumpengan atau selamatan dan memberi nama motor baru tersebut agar tidak membawa sial
  6. Foto bertiga, tidak boleh foto bertiga karena orang yang berada ditengah akan mendapatkan sial atau meninggal
  7. Mencabut alis mata di malam Jum'at Kliwon, tidak boleh mancabut bulu mata di malam Jumat Kliwon karena akan mendatangkan makhluk halus yang berwujud kecil
  8. Membuang nasi karena kenyang, kalau makan harus dihabiskan karena kalau tidak maka ayam peliharaan akan mati
Masih banyak lagi pantangan atau hal yang pamali untuk dilakukan dikalangan masyarakat Jawa. Selengkapnya akan kita bahas di lain waktu sambil penulis blog Blogtersakti.blogspot.com mencari referensi yang lebih lengkap untuk disajikan kepada anda.

Cerita Tentang Pesugihan Buto Ijo

Ini adalah sedikit kisah tentang makhluk ghaib buto ijo yang sering dijadikan sebagai sekutu untuk mencari kekayaan dengan jalur pesugihan. Menurut pengertian-nya, buto ijo adalah makhluk halus yang dimintai bantuan oleh manusia dengan jalan pesugihan dan memberikan sesaji kepada mereka sehingga mereka mau membantu upaya manusia dalam mengumpulkan harta kekayaan.

Pesugihan buto ijo adalah termasuk pesugihan hitam yang mengharuskan adanya tumbal berupa korban nyawa manusia yaitu kerabat dekat dari keluarga orang yang memelihara pesugihan tersebut. Pesugihan buto ijo sangat bertolak belakang dengan ilmu pesugihan putih yang telah kita bahas pada artikel terdahulu. Memelihara buto ijo menjadikan manusia menjadi beringas dan tidak pandang bulu dalam mencari harta kekayaan, sehinga tidak mempedulikan efek buruknya sehingga sering mengorbankan nyawa manusia lain demi kepentingannya.

Sedikit cerita tentang buto ijo adalah ketika penulis blog tersakti berkunjung kerumah seorang teman di daerah Sureng Tepus, Gunungkidul. Ketika penulis kesana, didesa tersebut baru saja melakukan penggerebekan terhadap salah satu warga yang dituduh memelihara buto ijo.

Menurut keterangan seorang teman, sudah banyak kali terjadi kecelakaan ganjil yang menyebabkan kematian. Misalnya orang yang ditabrak truk karena tidur berselimut karung ditengah jalan, orang yang menderita sakit aneh, dan kasus lainnya yang setelah di konsultasikan dengan orang pintar hal tersebut terjadi karena buto ijo yang terus meminta tumbal.

Menurut keterangan teman tersebut, sarang buto ijo adalah di pohon pace besar disebuah ladang. Katanya disana buto ijo sudah beranak-pinak, sehingga sering kali mencari mangsa. Waktu itu sudah dilakukan ritual orang orang pintar untuk mengusir atau memindahkan buto ijo tersebut dari desa itu, hanya saja ada satu buto ijo yang diduga adalah yang paling tua tidak mau pergi dari pohon pace tersebut. Hingga kini masyarakat masih terus berhati-hati terhadap segala hal yang berbau ghaib di desa mereka.

Foto dan Cerita Tentang Pulung Gantung

Pernah mendengar istilah pulung gantung? Ya, mungkin anda merasa asing dengan istilah tersebut, namun dikalangan masyarakat Jogja khususnya daerah Gunungkidul nama pulung gantung cukup bikin miris. Apa itu pulung gantung? Pulung gantung di indentifikasikan sebagai makhluk halus yang sering muncul dimalam hari, terutama pada saat ada orang yang mati karena gantung diri.


pulung gantung
Gambar ilustrasi: google.com

Cerita tentang orang meninggal disebabkan pulung gantung sangat banyak, di gunungkidul kasus kematian bunuh diri sering dikaitkan dengan makhluk halus tersebut. Salah satu ceritanya pernah saya tulis disini: http://blogtersakti.blogspot.com/

Sedangkan untuk makhluk halus pulung gantung sendiri sering terlihat berdekatan dengan lokasi orang tersebut meninggal, biasanya dalam beberapa hari masih sering terlihat penampakannya dimalam hari. Para warga mengusir makhluk tersebut dengan bunyi-bunyian dan berjaga malam bersama.

Untuk foto-foto dan wujud pulung gantung sendiri masih misteri, karena orang yang melihat pulung gantung tersebut memang tidak sempat mengambil gambar dan menfotonya. Namun mereka mengatakan melihat semacam benda bulat berekor dan menyala di langit. Kalau benda tersebut melayang-layang ke arah dusun tertentu, maka tidak berselang lama biasanya di dusun tersebut ada orang mati gantung diri.

Kegunaan Keris Kyai Singo Barong, Pusaka Para Pemimpin

Tanah nusantara adalah tanah bertuah yang menyimpan beragam benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang. Legenda Indonesia selalu dihiasi dengan kehadiran keris-keris sakti yang dipercaya mampu memberikan kekuatan kepada pemiliknya. Sebut saja keris Mpu Gandring, Nagasasra dan Sabuk Inten, hingga Condong Campur. Keris-keris tersebut tidak hanya ternama, namun juga bisa menghasilkan efek tertentu jika digunakan.

Salah satu keris yang cukup disegani di tanah nusantara adalah Kyai Singo Barong. Keris dengan dapur singa lanang (singo barong) ini menjadi buruan para pencinta keris, karena diyakini dapur singo barong memiliki kekuatan yang luar biasa. Dapur singa (simha) dipercaya akan membuat pemiliknya mempunyai karakter layaknya singa, yakni pemberani, kuat, tangguh, dan ditakuti baik kawan maupun lawan. Tidak hanya itu, wibawa yang melekat pada keris ini disebut-sebut dapat meningkatkan kharisma pemiliknya.

Menurut Ki Latif, salah seorang ahli keris dari Kediri, Jawa Timur, keris Singo Barong memang salah satu keris langka yang sangat istimewa. Jika kharisma keris sudah menyatu denga pribadi pemiliknya, tak pelak lagi sang pemilik akan mewarisi sifat singa yang gagah berani. Hanya saja, lanjut Ki Latif, tidak semua orang cocok memegang keris pusaka yang satu ini.


Keris Kyai Singo Barong

Kecocokan pemilik dengan keris yang dimilikinya memang tidak dapat dipaksakan. Ki Latif mengibaratkan hal ini dengan memakai pakaian. “Misalnya saya petani, sehari-harinya mencangkul dan berkebun. Kalau saya pakai jubah seperti kyai atau jas safari seperti DPR tentu tidak pantas, bukannya jadi berwibawa malah dicemooh tetangga, sekalipun jubah dan jas safari itu harganya jauh lebih mahal,” jelas Ki Latif sebagaimana dikutip salah satu tabloid misteri.

Demikian halnya dalam dunia perkerisan. Keris apapun, tidak hanya Singo Barong saja, tidak akan memberikan “tuah” kepada pemilik yang tidak sesuai dengannya. Ketidaksesuaian ini bisa saja dari karakter, kekuatan si pemilik, hingga sifat-sifat tertentu yang melekat. Bahkan, menurut Ki Latif, pemilik yang tidak sepadan dengan kerisnya tidak akan bisa menyuruh kerisnya berdiri.

Karena karakter dan sifatnya yang amat kokoh dan tangguh, Kyai Singo Barong amat cocok dipegang oleh pemimpin seperti Bupati atau Presiden. Jika pribadi pemimpin tersebut sesuai dan menyatu dengan kerisnya, maka dia akan dihormati baik oleh rakyat yang dipimpinnya maupun lawan politiknya. Selain itu, keris ini akan mampu membuat pemiliknya pandai bicara alias menjadi orator ulung, yang mampu mempengaruhi khalayak hanya dengan kata-katanya.

Keris Kyai Singo Barong sendiri amat langka dan tidak banyak yang pernah melihatnya langsung. Kyai Singo Barong yang dipegang Ki Latif bukan miliknya sendiri. Kakek ini mengaku “dititipi” oleh seseorang lebih dari 20 tahun yang lalu. Sekalipun sampai sekarang pemilik aslinya tidak muncul lagi, namun Ki Latif tetap tidak menganggap keris tersebut sebagai miliknya.

Misteri Candi Borobudur Yang Hingga Kini Belum Terungkap

Siapa yang tidak kenal Candi Borobudur? Candi yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah ini, adalah tempat wisata yang menjadi jujugan tidak hanya pelancong dalam negeri, melainkan juga wisatawan asing. Keunikan dan misteri besar yang menyelimuti Candi Borobudur merupakan daya tarik tersendiri.

Bagaimana tidak? Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 Masehi, pada masa pemerintahan Syailendra. Pada masa itu, belum ada teknologi canggih yang berkembang di dunia, baik dari segi pembuatan relief, pengangkutan material, hingga penyusunan yang mencapai tinggi 10 lantai. Candi Borobudur adalah candi terbesar kedua di dunia setelah Angkor Wat di Thailand. Bisa dibayangkan, bagaimana peninggalan sejarah semegah ini dibangun ketika manusia belum mengenal alat teknologi?

Struktur dasar Candi Borobudur adalah punden berundak, dengan enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Stupa utama terletak di tengah dan seakan “memahkotai” bangunan ini. Di sekelilingnya berbaris melingkar 72 stupa berlubang yang masing-masing berisi arca Buddha.


Misteri Candi Borobudur

Meskipun banyak data yang berbicara dari sisi sejarah dan desain candi ini, namun tidak banyak yang berhasil mengungkap misteri Candi Borobudur. Seperti, siapa arsitek utama Candi Borobudur? Berapa orang yang dipekerjakan? Dari mana saja material batu untuk membangun candi diperoleh? Bagaimana memotong dan membentuk batu mentah menjadi stupa dan arca? Teknik apa yang digunakan hingga bangunan tanpa perekat itu bisa tahan cuaca bahkan gempa selama berabad-abad? Serta masih banyak misteri lain yang belum terjawab.

Seorang dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta bernama Fahmi Basya pernah mengadakan penelitian terkait hal ini. Dengan metode penelitian yang sama sekali baru, dia menyimpulkan bahwa Borobudur dibangun oleh Nabi Sulaiman. Menurutnya, Candi Borobudur memiliki hubungan erat dengan Ratu Boko, atau dikenal dengan Ratu Balqis dalam Islam. Patung Buddha yang menghiasi candi ini sebenarnya adalah patung bidara surga dengan Nabi Sulaiman sebagai modelnya. Masih menurut dosen ini, Sulaiman adalah satu-satunya Nabi dengan nama depan “SU”, nama yang sangat lazim untuk pria Jawa.

Sementara itu, menurut arkeolog Barat Edward Leedskalnin yang sedikit “nyentrik”, candi Borobudur dibangun dengan konsep block and tackle, yakni sistem pemindahan material berat menggunakan alat bantu sejenis pengerek. Ada juga yang mengatakan bahwa Borobudur dibangun oleh sekelompok alien. Bahkan, tidak jarang yang mempercayai bahwa candi ini dibangun orang dengan bantuan jin, sebagaimana Prambanan dan Tangkubanperahu.

Sampai sekarang misteri Borobudur belum terungkap. Yang jelas, banyak paranormal Indonesia yang menyerukan untuk lebih menghormati kesakralan candi ini. Spiritualis-spiritualis tersebut mencontohkan dengan ruwatan berupa doa bersama, tabur kembang mawar, dan menyapu stupa dengan sapu lidi untuk mengusir sengkala.

Kisah Ilmu Kesaktian Walisongo, Benarkah Ada?

Walisongo boleh dikatakan memiliki peranan yang sangat besar dalam penyebaran agama Islam di tanah air. Sembilan orang pilihan yang sebagian berasal dari luar Nusantara ini berhasil memadukan Islam sebagai agama baru dengan keyakinan masyarakat yang masih kental ke Hindu.

Selain ahli dalam bidang agama, wali-wali ini juga disebut-sebut mumpuni dalam ilmu batin yang sakti dan olah kanuragan. Banyak cerita mengenai kesaktian wali yang sampai sekarang masih dipegang masyarakat. Salah satunya adalah kesaktian Sunan Kudus yang berasal dari Jipang Panolan, Blora, yang konon katanya berhasil meredakan wabah penyakit yang menjangkiti masyarakat Arab.

Tertulislah sebuah kisah tentang seorang Waliyullah yang berhasil memerangi wabah penyakit yang meresahkan negara Arab pada waktu itu. Waliyullah yang bernama asli Raden Ja’far itu sedang menunaikan ibadah haji Mekah. Pada saat bersamaan, wabah penyakit yang begitu sulit disembuhkan menjangkiti sebagian besar masyarakat Arab. Karena kondisi masyarakat Arab yang sudah memasuki tahap kritis, maka Raja Arab waktu itu mengadakan sayembara berhadiah menggiurkan. Sudah banyak para ulama dan thabib yang mencoba mengikuti sayembara ini namun belum ada yang berhasil.

Sunan Kudus ikut mencoba menghentikan malapetaka itu. Dengan berbekal doa, keikhlasan hati akan kesembuhan masyarakat Arab dan tidak tergiur oleh hadiah, serta kelebihan ilmu batin yang dimilikinya, Sunan Kudus berhasil menghalau penyakit tersebut. Seperti niat awalnya yang tulus, Sunan Kudus tidak menagih hadiah kepada Raja Arab. Beliau hanya meminta batu yang ada di Palestina untuk dipasang di masjid yang dibangunnya di Kudus.

Selain Sunan Kudus, tersebut lagi wali yang dipercaya memiliki ilmu kesaktian tinggi. Adalah Sunan Kalijaga, wali yang disebut-sebut kesaktiannya paling tinggi diantara delapan wali yang lain. Masjid peninggalan Sunan Kalijaga yang terletak di kota Demak, konon salah satu tiangnya berasal dari potongan-potongan kayu, atau dalam bahasa Jawa disebut tatal. Legenda ini dipercaya masyarakat Islam Jawa secara turun temurun dan hingga kini, masjid tatal tersebut masih kokoh berdiri, meskipun tiangnya sudah diganti.


Walisongo

Ada lagi kisah Sunan Bonang. Sunan dengan nama asli Maulana Makdum Ibrahim ini mampu mengubah buah kolang kaling yang ada di pohon menjadi emas.

Semua kisah-kisah tersebut adalah mitos yang dipegang masyarakat dan diceritakan kembali dari mulut ke mulut. Tidak ada cara bagi kita untuk membuktikan kisah-kisah tersebut benar atau hanya rekaan. Yang jelas, Walisongo adalah sekelompok orang pilihan yang telah berjasa memperkenalkan Islam ke Indonesia. Sejatinya, yang disebut wali adalah orang yang mendapat tempat tinggi di sisi Tuhan karena ketakwaannya, sehingga jaman sekarang pun bisa jadi terdapat banyak wali di sekitar kita. Kisah-kisah tentang Walisongo tersebut setidaknya dapat menjadi pelajaran, betapa orang yang dekat dengan Tuhan akan dimudahkan dalam segala urusan.

Masangin di Beringin Kembar Jogja, Mitos Atau Fakta?

Wisata alun-alun selatan Yogyakarta memang sangat mempesona. Selain diramaikan oleh sepeda-sepeda hias, angkringan, dan kitiran, di Jogja dikenal pula permainan khas yang tidak akan ditemukan di kota-kota lain. Permainan di alun alun kidul ini disebut masangin.

Di tengah alun-alun selatan Jogja (warga dan pendatang di Jogja biasa menyebutnya alun-alun kidul atau alkid), terdapat dua beringin kembar yang konon telah berusia ratusan tahun. Permainan masangin mengharuskan pesertanya untuk bisa berjalan lurus diantara dua pohon itu dengan mata tertutup. Sekalipun peserta pada awal berjalan merasa sudah lurus, namun di tengah jalan, sebagian besar dari mereka akan berbelok ke arah lain. Sangat jarang sekali orang bisa menembus dua ringin kurung itu pada percobaan pertama.

Selain mengasyikkan, permainan masangin rupanya menyimpan mitos tersendiri. Dikatakan, jika seseorang bisa berjalan lurus menembus dua pohon itu, maka keinginannya apapun akan terkabul. Mungkin karena mitos ini, masangin menjadi permainan yang amat digemari para wisatawan di Jogja, sekalipun tidak gampang melakukannya.


Masangin di Beringin Kembar Jogja, Mitos Atau Fakta?

Menurut KHT Ruspudio Dipuro, spiritualis asal Kotagede, gagal berhasilnya seseorang ber-masangin merupakan pertanda ‘bersih’ tidaknya jiwa orang tersebut. Namun, jika “dibantu” oleh jin yang katanya menghuni pohon beringin tersebut, maka menembus ringin kurung menjadi semudah berjalan biasa. Menurut spiritualis ini, jin alun-alun kidul hanya mau membantu orang-orang yang ‘bersih’.

“Orang melihat kawasan Alun-alun Selatan hanya bangunan biasa. Tapi kalau dilihat dari kacamata batin, ada kehidupan dunia lain,” ujarnya.

Hal tersebut bukannya tanpa alasan. Dulu, menurut cerita yang beredar dari mulut ke mulut, kejadian bermula saat putri Sultan Hamengku Buwono I dilamar oleh seorang pemuda. Karena tidak mencintainya, sang putri meminta pemuda itu untuk berjalan dari utara ke selatan, menembus dua pohon beringin, dengan mata tertutup. Sri Sultan mengatakan hanya orang berhati ‘bersih’ yang sanggup melakukannya. Ternyata pemuda itu gagal.

Ada lagi mitos tentang beringin kembar yang dianggap pintu gerbang menuju kerajaan laut selatan. Mitos ini berkembang di masa pemerintahan Hamengku Buwono VI.

Mitos-mitos tersebut memang tidak dapat dibuktikan, dan terserah kepada masing-masing pribadi untuk percaya atau tidak. Yang jelas, menilik dari sejarah, peranan alun-alun selatan dalam Keraton Ngayogyakarta memang tidak main-main. Dulu, di jaman Sultan Hamengku Buwono VII, tempat itu adalah lokasi latihan baris berbaris prajurit kerajaan. Setiap Senin dan Kamis siang diselenggarakan lomba panahan dengan target di sebelah utara beringin, bahkan pernah pula lomba adu harimau. Alun-alun selatan juga merupakan tempat pertemuan abdi ndalem dan wedana prajurit pada malam 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan. Di masa Hamengku Buwono VIII, kegiatan-kegiatan ini mulai dihentikan.

Makna di Balik Tradisi Lampah Bisu Mubeng Beteng Kraton

Masyarakat Yogyakarta terbiasa dengan ritual mengelilingi benteng keraton setiap tanggal 1 Suro. Arak-arakan ini selalu diikuti oleh ribuan orang dan dilakukan dalam diam, tanpa pembicaraan, makan, minum, bahkan merokok. Tradisi ini dikenal sebagai “lampah bisu mubeng beteng”, alias berjalan dalam diam mengelilingi benteng.

Pada awalnya, tradisi “mubeng beteng” ini merupakan warisan zaman Mataram Hindu pada abad 6 Masehi. Ritual asli Jawa ini disebut “muser” atau “munjer”, yang artinya mengelilingi pusat. Pusat yang dimaksud adalah istana kerajaan, dalam hal ini yang lebih spesifik adalah benteng kerajaan.

Sumber lain mengatakan bahwa “mubeng beteng” adalah tradisi Mataram Islam. Saat itu, 1 Suro 1580, Mataram tengah siaga karena bersiap menghadapi serangan Pajang. Para prajurit yang berjaga mengelilingi benteng secara rutin untuk menjaga kraton dari musuh. Agar tidak terkesan latihan militer, para prajurit ini melangkah dalam diam sambil membaca doa-doa dalam hati, agar diberi keselamatan.

Namun, apa sebenarnya makna dari kegiatan tahunan ini?

Sejarawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Purwanto, tidak sama dengan masangin beringin kembar Jogja, mubeng beteng merupakan sarana untuk evaluasi terhadap segala perilaku atau perbuatan di tahun lalu. "Melalui perenungan diri dengan tirakat atau lelaku, masyarakat dapat melakukan evaluasi dan introspeksi diri, serta sadar bahwa manusia ada yang menghidupkan, yakni Tuhan," katanya.


Lampah Bisu Mubeng Beteng Kraton Yogyakarta

Tradisi melangkah dalam diam dimaksudkan agar masyarakat lebih bisa prihatin dan mawas diri dalam menghadapi tahun yang akan datang. Mawas diri diperlukan agar seseorang tidak terlalu berpuas atau menyesali tahun-tahun yang telah lalu, melainkan tetap berdoa dan menyerahkan pada Yang Maha Kuasa.

"Tapa bisu mubeng beteng itu untuk memeringati tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro bagi masyarakat Jawa. Tujuannya mengajak masyarakat untuk bersyukur kepada Tuhan, memohon keselamatan dan kesejahteraan," kata kerabat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Gunokadiningrat.

Selain merenung, ketika berjalan peserta kirab ini juga berdoa untuk keselamatan pribadi, keluarga, Yogyakarta dan Indonesia untuk tahun-tahun yang akan datang.

Meskipun dilangsungkan di kawasan benteng, namun ritual ini bukanlah kegiatan resmi dari keraton. Kegiatan ini dilakukan oleh abdi dalem keprajan dan punokawan, yang berusaha menjaga tradisi penuh makna berlangsung terus menerus.

Ketika melakukan ritual tersebut, peserta yang berasal dari abdi dalem dan punokawan mengenakan pakaian adat Jawa berwarna biru tua, tanpa keris, tanpa alas kaki, dan membawa sejumlah panji.

Kegiatan ini sama sekali tidak bersifat syirik atau menyekutukan Tuhan. Karena, dalam lampah bisu tersebut, para peserta tetap memanjatkan doa kepada Tuhan. Purwanto menegaskan, mubeng beteng hanya sarana agar manusia semakin memahami bahwa kehidupan ini sudah ada yang mengatur, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sejarah Kyai Nogososro, Keris Piyandel Kerajaan Majapahit


Nama keris Kyai Nogososro sudah begitu akrab di telinga, tidak hanya bagi yang terbiasa dengan dunia mistis maupun masyarakat awam. Keris ini sering disebut bergandengan dengan Sabuk Inten, sekalipun secara fisik keduanya berbeda.

Kyai Nogososro adalah keris berlapis emas berluk tiga belas. Saat ini nama Nogososro sudah diadaptasi menjadi jenis dapur untuk keris berluk tiga belas, dan ada pula versi lain yang berluk sembilan dan sebelas, sehingga penyebutan keris ini perlu diiringi dengan jumlah luk-nya. Jika disebutkan tanpa luk, maka keris yang dimaksud adalah Kyai Nogososro asli peninggalan Majapahit.

Keris ini dibuat oleh Pangeran Mpu Sedayu, atau yang bernama lain Mpu Supa Mendagri atau Mpu Pitrang, pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya V (1466 - 1478). Menurut cerita, Mpu Supa berhasil membawa pulang keris Kyai Ageng Puworo atau Kyai Sengkelat, yang saat itu dibawa lari Adipati Blambangan yang berniat makar pada kerajaan. Imbalannya, Mpu Supa diberi tanah perdikan di daerah Sedayu (Gresik), diberi gelar pangeran, dan menikahi salah satu putri keraton.


keris kyai nogo sosro

Hampir sama populernya dengan Kisah Walisongo maka kehebatan keris ini sangat melegenda. Sang Prabu meminta Mpu Supa untuk membuatkan sebilah keris yang mampu meredam seribu bencana yang saat itu mengepung Majapahit. Mpu Supa yang meminta petunjuk dari Sang Hyang Widhi kemudian mendapat gambaran, keris itu memiliki dapur naga tiga belas luk dengan seribu sisik yang bertahtakan emas.

Maka dengan usaha keras, jadilah keris itu. Keris Kyai Nogososro disebut-sebut berlapis emas dan bertabur intan hingga ke ujungnya. Kepala naga tidak diberi mahkota, tubuhnya melenggok sesuai dengan lekukan luk, hingga ekornya yang berbentuk bupu mengerucut sempurna di ujung keris.
Legenda mengatakan keris ini benar-benar memenuhi harapan Sang Prabu. Pemberontakan Blambangan dengan mudah dapat diredam. Berbagai bencana yang mengintai Majapahit akibat perang seperti kelaparan, penjarahan, dan kemiskinan, perlahan-lahan sirna. Oleh Sang Prabu, keris Kyai Nogososro dijadikan keris piyandel kerajaan Majapahit.

Cerita ini tentu saja tidak berlandas bukti-bukti resmi. Namun kepercayaan masyarakat akan keris ini sudah begitu kuat. Menyebut keris ini selalu diiringi dengan nama keris lain, yakni Sabuk Inten, menjadi “Nogososro Sabuk Inten”. Sebagaimana Kyai Nogososro, Sabuk Inten juga berluk tiga belas. Perbedaannya hanya terletak pada ciri-cirinya. Kyai Nogososro memiliki ciri kruwingan, ri pandan dan greneng, sementara Sabuk Inten sogokan, kembang kacang, lambe gajah dan greneng.

Saat ini, Nogososro dan Sabuk Inten menjadi istilah untuk dapur keris. Banyak mpu-mpu jaman Mataram Islam yang membuat dua dapur keris ini. Salah satunya adalah Mpu Ki Nom yang hidup pada masa Sultan Agung Hanyakra Kusuma.

Keris Nogososro dan Sabuk Inten menjadi terkenal setelah S.H. Mintardja, penulis cerita rakyat terkenal, menulis tentang Mahesa Djenar (murid Syeh Siti Djenar) mencari dua pusaka ini. Dikatakan, siapa yang memiliki dua keris ini akan menjadi pewaris sah kerajaan Demak.